Hubungan Antara Karakter Inovasi
Observability
Terhadap Adopsi di
Peternak yang Belum Tersentuh Inovasi
Perkembangan
Peternakan sangat mempengaruhi tentang adanya perubahan, baik berupa
modernisasi ataupun revolusi pada sistem yang digunakan, mengacu pada Peternakan
di Indonesia sangatlah jauh dibandingkan dengan sistem Peternakan di Luar Negri.
Kesenjangan sosial, pengetahuan yang minim dan sumber daya manusia yang kurang
berkualitas merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan Peternakan. Untuk
memajukan perkembangan Peternakan dibutuhkan penyuluhan yang menunjang pada
umumnya. Menurut (Sudaryanto T, dkk 2012) Komponen yang mempengaruhi Perubahan
adalah lembaga penunjang seperti Pemerintahan (Kebijakan), Penyuluhan,
Pendidikan dan Penelitian. Kebijakan Pemerintah merupakan Faktor kunci bagi
perkembangan Peternkan. Penyuluhan sangat berperan penting dalam desiminasi
Teknologi dan Informasi yang diperlukan dalam Perkembangan.
Menurut
Sri Yuliani S, dkk (2011) yang dikutip dari (Mardikanto, 1993).
Penyuluhan adalah Kegiatan yang dapat meningkatkan mutu dan kualitas peternak.
Penyuluhan pada dasarnya adalah pendidikan non formal dimana target/sasarannya
yaitu para petani/peternak harus mengalami perubahan perilaku, dari mulai aspek
yang bersifat kognitif, afektif, dan akhirnya psikomotorik.
Seiring
dengan Berkembangnya zaman maka akan terjadinya modernisasi, dibutuhkan inovasi
atau penemuan-penemuan yang memberikan perubahan dengan perkembangan zaman,
Menurut Intan Sari, dkk (2009) Inovasi sebagai suatu ide, perilaku, informasi,
produk, dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui oleh masyarakat,
inovasi tidak akan langsung dapat diterima dan digunakan dalam jangka waktu
yang cepat dan bersamaan. Masyarakat membutuhkan waktu untuk mengambil
keputusan dalam menerima atau menolak inovasi.
Proses
adopsi dari inovasi dalam peternakan merupakan suatu kegiatan komunikasi yang
melibatkan individu-individu yang berkecimpung dalam kegiatan tersebut. Rogers
dan Soemaker (1971) membagi proses adopsi menjadi empat tahap yaitu tahap
pengenalan (informasi), persuasi (sikap berminat), keputusan mencoba dan
konfirmasi. Faktor individu dan perilaku komomunikasi memegang peranan penting
dalam mempengaruhi proses adopsi (Rogers dan Soemakers, 1971; Soekartawi, 1988
dan Mardikanto, 1992).
Dalam
Hal ini yang diperlukan untuk mengenalkan seuah inovasi adalah Informasi .
Informasi dapat mengurangi serta menghilangkan ketidakpastian atau jumlah
kemungkinan alternatif. Informasi sangat berperan dalam dalam mempengaruhi
pembentukan atau perubahan sikap seseorang terhadap suatu objek. Pendapat ini
menunjukkan bahwa informasi sangat diperlukan untuk memantapkan sikap seseorang
terhadap suatu alternative. Makin banyak (berulang) informasi yang diperoleh
seseorang akan makin mantap sikap seseorang terhadap suatu pilihan, dan akan
menghilangkan ketidakpastian. Dengan hilangnya ketidakpastian dan timbulnya
sikap positif terhadap sesuatu akan memungkinan timbulnya tindakan positif terhadap
sesuatu tersebut (Sumarno,2010).
Meninjau
dari contoh inovasi yang diperkenalkan pada masyarakat tentang teknologi
ternak/domba. Langkah yang diambil adalah dengan memberikan informasi tentang
inovasi, hal ini merupakan salah satu cara untuk melakukan komunikasi. Terdapat
indikasi bahwa semakin aktif responden membicarakan informasi, akan semakin
banyak informasi yang diperoleh dan hal ini dapat meningkatkan pengetahuan
mereka dalam bidang beternak dan diharapkan mampu merubah kebiasaan mereka
dalam memelihara ternak yang selama ini belum tersentuh inovasi. Sehingga
proses adopsi inovasi akan relatif lebih cepat (Murtiyeni dkk,2004).
Penggunaan
atau adopsi inovasi tergantung pada persepsi penerima Informasi tentang
inovasi, merupakan hal yang penting dalam peng-aplikasian sebuah inovasi dengan
begitu ciri-ciri dari inovasi dapat diketahui, apakah berguna jika diterapkan,
dan kemudahan akses dari inovasi tersebut, dengan demikian peternak akan
mengetahui dan mengadopsi inovasi tersebut. Dengan demikian akan timbul rasa
ingin tahu sehingga menimbulkan persepsi
di kalangan peternak. Persepsi sendiri adalah pendapat atau pandangan responden
tentang ciri-ciri inovasi. Suatu inovasi teknologi dikenalkan kepada masyarakat
pengguna dapat diterima atau ditolak (Rogers Dan Soemaker, 1971 dikutip dari
Murtiyeni dkk, 2004). Komunikasi merupakan fakor yang menentukaan persepsi
dengan demikian berkomunikasi dengan baik adalah suatu metode yang dilakukan
demi mencapai target dan sasaran.
Inovasi
sendiri memiliki salah satu karakteristrik (observability)
yaitu mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya
mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya inovasi
yang sukar diamati hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat. Suatu
contoh Hasil penelitian dari (Martiyeni
dkk, 2004) yang memperkenalkan teknologi Peternakan Kambing/Domba yang brupa
teknologi Obat parasit cacing. Dari persepsi responden memperlihatkan bahwa
inovasi teknologi Obat Cacing Parasit mudah sekali untuk diamati sehingga para
responden mudah untuk mengerti dan mengetahui. Inovasi dari teknologi Obat
Cacing Parasit itu sendiri diperkenalkan dalam bentuk kemasan khusus sehingga
dapat dilihat wujudnya dengan jelas, begitu pula cara pemberian obat cacing
dapat di amati dengan mudah sehingga responden mengerti dan dapat untuk
mengadopsi inovasi dari Teknologi Obat Cacing Tersebut.
Contoh
lainya hasil penelitian Intan Sari dkk, (2009) yang memperkenalkan Feed
Additive Herbal Untuk Ayam
Pedaging pada peternak dimana respon variabel persepsi peternak terhadap
karakteristik inovasi yang terdiri atas keuntungan relatif, kompatibilitas,
kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas. Hal ini membuktikan bahwa
semakin tinggi tingkat keuntungan relatif dan observabilitas akan mempercepat
proses adopsi, sedangkan semakin komplek suatu inovasi akan menyebabkan
lambatnya proses adopsi. Observabilitas suatu inovasi menurut anggapan anggota
sistem sosial berhubungan positif dengan kecepatan adopsinya
Dalam hal ini kesuksesan sebuah
inovasi di adopsi banyak sekali di pengaruhi oleh, kemudahan akan sebuah
Inovasi dan kemampuan dalam menggunakan inovasi tersebut. Menurut Sumarno
(2010), Sebuah inovasi memiliki sasaran atau target untuk mencapai adopsi yang
di inginkan, dengan demikian dibutuhkan pendekatan Adopsi terhadap inovasi yang di bagi menjadi
empat Pendekatan yaitu :
1.
Pendeka Kategori I yaitu factor-faktor
yang mempengaruhi seorang Peternak dalam
menentukan pilihan adopsi inovasi. Faktor- faktor tersebut antara lain: skala
usaha, ketersediaan kredit dan tenaga kerja, karakteristik pengusaha (seperti:
umur, pendidikan, dan sikap terhadap resiko), dan faktor situasional (keadaan
pasar).
2.
Pendekatan kategori II pada intinya merupakan
aplikasi psikologi. Tekanan utama terletak pada proses mental yang dilalui oleh
seorang sebelum keputusan untuk menerima atau menolak adopsi inovasi, dengan
kata lain keputusan inovasi sangat dipengaruhi oleh faktor psikologi si
penerima inovasi tersebut. Menurut Lionberger (Sudarno & Rietveld, 1987)
tahapan proses mental yang dilalui oleh seseorang sejak mendengar sesuatu
hingga menerima suatu adopsi mencakup: awareness, interest, evaluasion,
trial dan adoption.
3.
Pendekatan kategori III mempelajari
peranan faktor-faktor sosial dan budaya terhadap adopsi inovasi. Pada
pendekatan ini penelitian difokuskan pada faktor sikap dan nilai yang dianut
oleh kelompok masyarakat tertentu.
4.
Penekanan pada pendekatan IV adalah dinamika
adopsi inovasi pada tingkat agregasi dalam suatu area terntentu. Titik beratnya
terletak pada jaringan komunikasi dan penyebaran inovasi dilihat dari dimensi
ruang dan waktu (Abler & Gould, 1972).
Lebih
lanjut Martiyeni dkk, (2004) menjelaskan Nilai ciri-ciri inovasi yang
mempengaruhi tingkat adopsi inovasi yang diperkenalkan yaitu :
·
Tidak menguntungkan/tidak
sesuai/rumit/sulit dicoba/sulit diamati
·
Kurang menguntungkan/kurang sesuai/cukup
rumit/agak mudah dicoba/agak sulit diamati
·
Menguntungkan/sesuai/tidak rumit/mudah
dicoba/mudah di amati
·
NS+ Non significan
Jika
di evaluasi inovasi erat hubungannya dengan penyuluh dimana inovasi merupakan pemuan
baru yang masih belum banyak mengetahui tugas dari penyuluh yang memberikan
informasi, dengan pemahaman dan pengarahan dari seorang penyuluh akan
memberikan keberhasilan dalam menyampaikan sebuah inovasi untuk di adopsi.
Selain program penyuluhan yang diberikan oleh pemerintah diharapkan adanya
kesadaran akan berbagi inovasi-inovasi tepat guna untuk membangun Peternakan
menuju perubahan. Maka dibutuhkan penyuluh yang berasal dari peternak yang
sukses atau oarang-orang yang berpengaruh karena mereka memiliki Karakteristik
kualitas personal dan kualitas profesional, kualitas personal meliputi
pengembangan sikap terhadap tugas dan lingkungan, sedangkan kualitas profesional
meliputi penguasaan terhadap inovasi, penyebaran inovasi, dan upaya transfer
inovasi. Diharapkan karakteristik penyuluh ini dapat memberi motivasi bagi peternak
untuk mengembangkan usaha ternaknya. (Sri Yuliani dkk, 2011)
Dengan adanya inovasi penemuan-penemuan baru
yang menunjang perkembangan Peternakan diharapkan mampu untuk memberikan suatu
batu loncatan untuk menuju perubahan yang memberikan dampak yang berguna bagi
peternak ataupun bagi negara
Kesimpulan
Dengan adanya
karakteristrik atau ciri-ciri inovasi yang bersifat (observability) yaitu muda atau tidaknya suatu inovasi tersebut
digunakan mampu memberkan hasilyang mudah diamati akan makin cepat diterima
oleh masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati hasilnya, akan lama
diterima oleh masyarakat. Dengan demikian diharapkan inovasi yang mudah
dipahami dan tepat guna, untuk kemajuan dan perkembangan peternak
by : Richardo Ariyanto
............
BalasHapus