Kamis, 22 November 2012

Penyuluhan


Hubungan Antara Karakter Inovasi Observability
Terhadap Adopsi di Peternak yang Belum Tersentuh Inovasi


Perkembangan Peternakan sangat mempengaruhi tentang adanya perubahan, baik berupa modernisasi ataupun revolusi pada sistem yang digunakan, mengacu pada Peternakan di Indonesia sangatlah jauh dibandingkan dengan sistem Peternakan di Luar Negri. Kesenjangan sosial, pengetahuan yang minim dan sumber daya manusia yang kurang berkualitas merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan Peternakan. Untuk memajukan perkembangan Peternakan dibutuhkan penyuluhan yang menunjang pada umumnya. Menurut (Sudaryanto T, dkk 2012) Komponen yang mempengaruhi Perubahan adalah lembaga penunjang seperti Pemerintahan (Kebijakan), Penyuluhan, Pendidikan dan Penelitian. Kebijakan Pemerintah merupakan Faktor kunci bagi perkembangan Peternkan. Penyuluhan sangat berperan penting dalam desiminasi Teknologi dan Informasi yang diperlukan dalam Perkembangan.

Menurut Sri Yuliani S, dkk (2011)  yang dikutip dari (Mardikanto, 1993). Penyuluhan adalah Kegiatan yang dapat meningkatkan mutu dan kualitas peternak. Penyuluhan pada dasarnya adalah pendidikan non formal dimana target/sasarannya yaitu para petani/peternak harus mengalami perubahan perilaku, dari mulai aspek yang bersifat kognitif, afektif, dan akhirnya psikomotorik.

Seiring dengan Berkembangnya zaman maka akan terjadinya modernisasi, dibutuhkan inovasi atau penemuan-penemuan yang memberikan perubahan dengan perkembangan zaman, Menurut Intan Sari, dkk (2009) Inovasi sebagai suatu ide, perilaku, informasi, produk, dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui oleh masyarakat, inovasi tidak akan langsung dapat diterima dan digunakan dalam jangka waktu yang cepat dan bersamaan. Masyarakat membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan dalam menerima atau menolak inovasi.

Proses adopsi dari inovasi dalam peternakan merupakan suatu kegiatan komunikasi yang melibatkan individu-individu yang berkecimpung dalam kegiatan tersebut. Rogers dan Soemaker (1971) membagi proses adopsi menjadi empat tahap yaitu tahap pengenalan (informasi), persuasi (sikap berminat), keputusan mencoba dan konfirmasi. Faktor individu dan perilaku komomunikasi memegang peranan penting dalam mempengaruhi proses adopsi (Rogers dan Soemakers, 1971; Soekartawi, 1988 dan Mardikanto, 1992).

 Dalam Hal ini yang diperlukan untuk mengenalkan seuah inovasi adalah Informasi . Informasi dapat mengurangi serta menghilangkan ketidakpastian atau jumlah kemungkinan alternatif. Informasi sangat berperan dalam dalam mempengaruhi pembentukan atau perubahan sikap seseorang terhadap suatu objek. Pendapat ini menunjukkan bahwa informasi sangat diperlukan untuk memantapkan sikap seseorang terhadap suatu alternative. Makin banyak (berulang) informasi yang diperoleh seseorang akan makin mantap sikap seseorang terhadap suatu pilihan, dan akan menghilangkan ketidakpastian. Dengan hilangnya ketidakpastian dan timbulnya sikap positif terhadap sesuatu akan memungkinan timbulnya tindakan positif terhadap sesuatu tersebut (Sumarno,2010).

Meninjau dari contoh inovasi yang diperkenalkan pada masyarakat tentang teknologi ternak/domba. Langkah yang diambil adalah dengan memberikan informasi tentang inovasi, hal ini merupakan salah satu cara untuk melakukan komunikasi. Terdapat indikasi bahwa semakin aktif responden membicarakan informasi, akan semakin banyak informasi yang diperoleh dan hal ini dapat meningkatkan pengetahuan mereka dalam bidang beternak dan diharapkan mampu merubah kebiasaan mereka dalam memelihara ternak yang selama ini belum tersentuh inovasi. Sehingga proses adopsi inovasi akan relatif lebih cepat (Murtiyeni dkk,2004).

Penggunaan atau adopsi inovasi tergantung pada persepsi penerima Informasi tentang inovasi, merupakan hal yang penting dalam peng-aplikasian sebuah inovasi dengan begitu ciri-ciri dari inovasi dapat diketahui, apakah berguna jika diterapkan, dan kemudahan akses dari inovasi tersebut, dengan demikian peternak akan mengetahui dan mengadopsi inovasi tersebut. Dengan demikian akan timbul rasa ingin tahu sehingga  menimbulkan persepsi di kalangan peternak. Persepsi sendiri adalah pendapat atau pandangan responden tentang ciri-ciri inovasi. Suatu inovasi teknologi dikenalkan kepada masyarakat pengguna dapat diterima atau ditolak (Rogers Dan Soemaker, 1971 dikutip dari Murtiyeni dkk, 2004). Komunikasi merupakan fakor yang menentukaan persepsi dengan demikian berkomunikasi dengan baik adalah suatu metode yang dilakukan demi mencapai target dan sasaran.

Inovasi sendiri memiliki salah satu karakteristrik (observability) yaitu mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat. Suatu contoh  Hasil penelitian dari (Martiyeni dkk, 2004) yang memperkenalkan teknologi Peternakan Kambing/Domba yang brupa teknologi Obat parasit cacing. Dari persepsi responden memperlihatkan bahwa inovasi teknologi Obat Cacing Parasit mudah sekali untuk diamati sehingga para responden mudah untuk mengerti dan mengetahui. Inovasi dari teknologi Obat Cacing Parasit itu sendiri diperkenalkan dalam bentuk kemasan khusus sehingga dapat dilihat wujudnya dengan jelas, begitu pula cara pemberian obat cacing dapat di amati dengan mudah sehingga responden mengerti dan dapat untuk mengadopsi inovasi dari Teknologi Obat Cacing Tersebut.


Contoh lainya hasil penelitian Intan Sari dkk, (2009) yang memperkenalkan  Feed Additive Herbal Untuk Ayam Pedaging pada peternak dimana respon variabel persepsi peternak terhadap karakteristik inovasi yang terdiri atas keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, triabilitas, dan observabilitas. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat keuntungan relatif dan observabilitas akan mempercepat proses adopsi, sedangkan semakin komplek suatu inovasi akan menyebabkan lambatnya proses adopsi. Observabilitas suatu inovasi menurut anggapan anggota sistem sosial berhubungan positif dengan kecepatan adopsinya

            Dalam hal ini kesuksesan sebuah inovasi di adopsi banyak sekali di pengaruhi oleh, kemudahan akan sebuah Inovasi dan kemampuan dalam menggunakan inovasi tersebut. Menurut Sumarno (2010), Sebuah inovasi memiliki sasaran atau target untuk mencapai adopsi yang di inginkan, dengan demikian dibutuhkan pendekatan  Adopsi terhadap inovasi yang di bagi menjadi empat Pendekatan  yaitu :
1.      Pendeka Kategori I yaitu factor-faktor yang mempengaruhi seorang Peternak  dalam menentukan pilihan adopsi inovasi. Faktor- faktor tersebut antara lain: skala usaha, ketersediaan kredit dan tenaga kerja, karakteristik pengusaha (seperti: umur, pendidikan, dan sikap terhadap resiko), dan faktor situasional (keadaan pasar).
2.      Pendekatan kategori II pada intinya merupakan aplikasi psikologi. Tekanan utama terletak pada proses mental yang dilalui oleh seorang sebelum keputusan untuk menerima atau menolak adopsi inovasi, dengan kata lain keputusan inovasi sangat dipengaruhi oleh faktor psikologi si penerima inovasi tersebut. Menurut Lionberger (Sudarno & Rietveld, 1987) tahapan proses mental yang dilalui oleh seseorang sejak mendengar sesuatu hingga menerima suatu adopsi mencakup: awareness, interest, evaluasion, trial dan adoption.
3.      Pendekatan kategori III mempelajari peranan faktor-faktor sosial dan budaya terhadap adopsi inovasi. Pada pendekatan ini penelitian difokuskan pada faktor sikap dan nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat tertentu.
4.      Penekanan pada pendekatan IV adalah dinamika adopsi inovasi pada tingkat agregasi dalam suatu area terntentu. Titik beratnya terletak pada jaringan komunikasi dan penyebaran inovasi dilihat dari dimensi ruang dan waktu (Abler & Gould, 1972).

Lebih lanjut Martiyeni dkk, (2004) menjelaskan Nilai ciri-ciri inovasi yang mempengaruhi tingkat adopsi inovasi yang diperkenalkan yaitu :
·         Tidak menguntungkan/tidak sesuai/rumit/sulit dicoba/sulit diamati
·         Kurang menguntungkan/kurang sesuai/cukup rumit/agak mudah dicoba/agak sulit                            diamati
·         Menguntungkan/sesuai/tidak rumit/mudah dicoba/mudah di amati
·         NS+ Non significan




Jika di evaluasi inovasi erat hubungannya dengan penyuluh dimana inovasi merupakan pemuan baru yang masih belum banyak mengetahui tugas dari penyuluh yang memberikan informasi, dengan pemahaman dan pengarahan dari seorang penyuluh akan memberikan keberhasilan dalam menyampaikan sebuah inovasi untuk di adopsi. Selain program penyuluhan yang diberikan oleh pemerintah diharapkan adanya kesadaran akan berbagi inovasi-inovasi tepat guna untuk membangun Peternakan menuju perubahan. Maka dibutuhkan penyuluh yang berasal dari peternak yang sukses atau oarang-orang yang berpengaruh karena mereka memiliki Karakteristik kualitas personal dan kualitas profesional, kualitas personal meliputi pengembangan sikap terhadap tugas dan lingkungan, sedangkan kualitas profesional meliputi penguasaan terhadap inovasi, penyebaran inovasi, dan upaya transfer inovasi. Diharapkan karakteristik penyuluh ini dapat memberi motivasi bagi peternak untuk mengembangkan usaha ternaknya. (Sri Yuliani dkk, 2011)

 Dengan adanya inovasi penemuan-penemuan baru yang menunjang perkembangan Peternakan diharapkan mampu untuk memberikan suatu batu loncatan untuk menuju perubahan yang memberikan dampak yang berguna bagi peternak ataupun bagi negara   

Kesimpulan

Dengan adanya karakteristrik atau ciri-ciri inovasi yang bersifat (observability) yaitu muda atau tidaknya suatu inovasi tersebut digunakan mampu memberkan hasilyang mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat. Dengan demikian diharapkan inovasi yang mudah dipahami dan tepat guna, untuk kemajuan dan perkembangan peternak

by : Richardo Ariyanto

1 komentar: