Hijauan merupakan salah satu pakan ternak ruminansia seperti sapi dan kambing. Namun pada saat ini ketersediaan hijauan pakan ternak dibatasi oleh semakin sempitnya lahan hijauan pakan ternak dikarenakan semakin meningkatnya jumlah penduduk. Untuk mengatasi keterbatasan lahan untuk tanaman pakan ternak, kekurangan hijauan dimusim kemarau, sekaligus menekan biaya pakan semaksimal mungkin maka diperlukan alternatif pakan lain sebagai pemecahannya,(Suparjo,2011)
Potensi Suatu bahan Pakan ternak dalam menyediakan zat makanan bagi ternak dapat ditentukan dengan analisis kimia namun sayangnya potensi bahan makanan tersebut tidak dapat dimanfaatkan sepunuhnya , karena nilai dari bahan pakan tersebut dicerminkan dari bagian yang hilang setelah melalui proses pencernaan, penyerapan dan metabolisme, oleh karena itu bahan pakan maupun zat makanan yang dicerna sulit untuk diketahui kandungan nutrisinya
Komponen Bahan Pakan merupakan senyawa kimia yang telah memiliki karakteristik tertentu. Kompoten penting yang ada pada bahan pakan umumnya air, protein, vitamin, mineral dan beberapa senyawa minor lainnya. (Suparjo 2011)
Protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan Pakan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh ternak, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup. Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh ternak.
Salah satu faktor penyebab rendahnya tingkat produktivitas ternak adalah rendahnya kualitas bahan pakan yang lazim terdapat di daerah tropis umumnya dan Indonesia khususnya. Rendahnya nilai nutrisi tersebut ditunjukkan dengan rendahnya kandungan protein dan tingginya serat.
Latar Belakang Masalah
Salah satu masalah yang umum dihadapi oleh peternak tradisional adalah rendahnya mutu pekan dengan kandungan serat kasar yang tinggi, berupa jerami, rumput lapangan dan berbagai jenis hijauan lainnya. Jenis pekan ternak tersebut sulit dicerna dan tidak dapat memberikan zat-zat nutrisi yang berimbang untuk mendukung produktivitas yang optimal.
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah zat-zat makanan yang diperlukan oleh ternak untuk memelihara kondisi tubuh, pertumbuhan, untuk berproduksi dan reproduksi yang dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu:
1 Zat-zat makanan yang berasal dari bahan sumber energi.
2 Zat-zat makanan dari bahan sumber protein.
Tujuan Penulisan
Tujuan Utama dari Penulisan makalah ini adalah sebagai Tugas dari Matakuliah Ilmu Produksi Ternak Ruminansia, selain itu Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat membantu dan memberikan suatu ilmu yang bermanfaat bagi kemajuan dunia peternakan khususnya dalam Menejemen pakan dan nutrisi pakan Untuk Ruminansia. Meski makalah ini bisa dibilang jauh dari kesempurnaan,
Metode Penulisan
Dalam Penulisan, penulis membuat makalah di susun secara sistematis, dengan mempelajari dan menguntip dari beberapa literature yang ada.
PEMBAHASAN
Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Bahan pakan ternak terdiri dari tanaman, hasil tanaman, dan kadangkadang berasal dari ternak serta hewan yang hidup di laut (Tillman et al., 1991 dalam Nina WH). bahan pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat. Konsentrat berupa bijian dan butiran serta bahan berserat yaitu jerami dan rumput yang merupakan komponen penyusun ransum. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, dan reproduksi.
Syarat utama yang harus dipenuhi dalam budidaya ternak Ruminansia adalah harus tersedianya sumber hijauan sebagai pakan dasar ternak. Pakan merupakan faktor utama dalam menentukan tingkat produktivitas ternak di samping potensi genetik, kesehatan dan lingkungan. Tersedianya pakan yang cukup jumlah dan mutunya dan berkesinambungan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan kambing (Mathius et al, 1991 dalam Danuarsa 2011). Selanjutnya Mathius (1983) mengemukakan bahwa untuk mencapai tingkat produksi yang sesuai dengan potensi genetiknya perlu menyediakan sumber hijauan pakan ternak yang mencukupi jumlahnya dan berkualitas secara berkesinambungan.
Oleh karena itu penyedian pakan ternak harus pula memperhatikan kualitas, di samping juga kuantitasnya. (Wardani et al. 1992 dalam Abun 2007) Makanan pokok ternak ruminan adalah hijauan yang terdiri dari rumput maupun daun-daunan. Pemberian pakan yang hanya terdiri dari rumput belum dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan untuk ternak . Hal ini disebabkan kualitas/mutu rumput pada umumnya rendah.
Zat makanan yang dibutuhkan Ternak ruminan adalah protein, energi, mineral, serat kasar, vitamin. Jumlah zat makanan yang dibutuhkan sangat tergantung pada kondisi ternak, misalnya ternak muda, sedang tumbuh dan ternak yang sedang bunting membutuhkan lebih banyak zat makanan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan zat makanan maka campuran bahan makanan/hijauan perlu diatur perbandingannya.
Pemberian pakan yang berkualitas dengan jumlah pemberian sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan salah satu aspek yang penting. Pakan yang baik adalah yang mengandung zat makanan yang memadai kualitas dan kuantitasnya, seperti energi, protein, lemak, mineral dan juga vitamin, yang semuanya dibutuhkan dalam jumlah yang tepat dan seimbang, sehingga bisa menghasilkan produk yang berkualitas dan berkuantitas tinggi. Kebutuhan pakan bagi ternak sangat penting karena sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan reproduksi. Ketiga faktor diatas sangat penting dan mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya,
Bahwa tidak semua potensi bahan pakan dapat dicerna sebagaian bahan pakan akan dikeluarkan melalui fases oleh karena itu analisis zat kimia sebaiknya diikuti dengan analisis kecernaannya selisih antara konsumsi zat bahan pakan dengan ekstraksi zat makanan fases menunjukkan banyaknya zat makanan bahan pakan yang dicerna.
Kecernaan setiap bahan makanan atau ransum dipengaruhi oleh spesies hewan, bentuk fisik makanan, komposisi bahan makanan atau ransum, tingkat pemberian makanan, temperatur lingkungan dan umur hewan Kecernaan dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menilai suatu bahan pakan ternak Selanjutnya dinyatakan bahwa:
1. Semakin tinggi nilai kecernaan suatu bahan makanan, makin besar zat-zat makanan yang diserap.
2. Tingginya kandungan zat-zat makanan, jika nilai kecernaannya rendah maka tidak akan ada gunanya.
3. Untuk mengetahui seberapa besar zat-zat yang dikandung makanan ternak yang dapat diserap untuk kebutuhan pokok, pertumbuhan dan produksi.
Pada prinsipnya formulasi ransum temak bertujuan untuk menentukan jumlah penggunaan masing-masing bahan pakan sehingga biaya minimum, tetapi kebutuhan gizi temak yang mengkonsumsi tetap terpenuhi dengan seimbang dan tidak menyebabkan kondisi kesehatannya terganggu. Kriteria gizi yang diperhatikan adalah protein, energi termetabolisme (ME), lemak, serat kasar, kalsium, phospor, methyionin, lysine dan tryptopan. Disamping itu, batasan penggunaan bahan-bahan pakan tertentu perlu juga diperhatikan. Kelebihan penggunaan bahan tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau produksi pada temak yang mengkonsumsi.Maka Untuk ternak Ruminansia dibutuhkan zat yang penting dalam kandungan ransum yang diberikan sesuai dengan kebutuhan ternak yaitu
a. Kebutuhan akan Air
Air merupakan bahan pakan utama yang tidak bisa diabaikan, tubuh hewan terdiri dari 70% air, sehingga air benar-benar termasuk kebutuhan utama yang tidak dapat diabaikan. Kebutuhan air bagi ternak tergantung pada berbagai factor yaitu kondisi iklim, bangsa sapi, umur dan jenis pakan yang diberikan (Sugeng, 1998 dalam nina WH). Air dalam tubuh ternak berfungsi sebagai transportasi zat pakan melalui dinding-dinding usus ke dalam peredaran darah, mengangkut zat-zat sisa, sebagai pelarut beberapa zat dan mengatur suhu tubuh (Siregar, 1994 dalam abun 2007). Air minum sangat dibutuhkan bagi kesehatan sapi. Kebutuhan air minum sapi kurang lebih 20-40 liter/ekor/hari yang harus disediakan dalam kandang (Setiadi, 2001 dalam Nina WH).
b. Kebutuhan Akan Bahan Kering
Bahan kering adalah bahan yang terkandung di dalam pakan setelah dihilangkan airnya. Sapi potong mampu mengkonsumsi ransum berupa bahan kering sebanyak 3-4% dari bobot badannya (Tillman et al., 1991dalam Nina WH 2009). Konsumsi bahan kering menurut Lubis (1992), dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :
1) faktor pakan, meliputi daya cerna dan palatabilitas; dan
2) faktor ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur dan kondisi kesehatan ternak. Fungsi bahan kering pakan antara lain sebagai pengisi lambung, perangsang dinding saluran pencernaan dan menguatkan pembentukan enzim, apabila ternak kekurangan BK menyebabkan ternak merasa tidak kenyang.
c. Kebutuhan Akan Protein
Protein adalah senyawa organik kompleks yang mempunyai berat molekul tinggi. Ruminansia mendapatkan protein dari 3 sumber, yaitu protein mikrobia rumen, protein pakan yang lolos dari perombakan mikrobia rumen dan sebagian kecil dari endogenus (Tillman et al., 1991 dalam Nina WH 2009). Tubuh memerlukan protein untuk memperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak serta untuk produksi. Protein dalam tubuh diubah menjadi energi jika diperlukan. Protein dapat diperoleh dari bahan-bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan yang berasal dari biji-bijian (Sugeng, 1998 dalam Nina WH 2009). Protein didalam tubuh ternak ruminansia, dapat dibedakan menjadi protein yang dapat disintesis dan protein tidak dapat disintesis. Protein yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia yaitu dalam bentuk PK dan Prdd. Protein kasar adalah jumlah nitrogen (N) yang terdapat didalam pakan dikalikan dengan 6,25 (Nx6,25), sedangkan Prdd adalah protein pakan yang dicerna dan diserap dalam saluran pencernaan (Siregar, 1994). Menurut Anggorodi (1994) kekurangan protein pada sapi dapat menghambat pertumbuhan, sebab fungsi protein adalah untuk
memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme, sumber energi,
d. Kebutuhan akan Energi
Energi dalam pakan umumnya berasal dari karbohidrat dan lemak. Pentingnya energi dalam pakan tercermin dari adanya 2 macam metode pengukuran yaitu metode pengukuran TDN merupakan sistem ukuran yang paling tua yang berdasar pada fraksi-fraksi yang tercerna dari sistem Wende serta sumbangan energinya. Sistem yang kedua adalah sistem kalori berdasar pada kandungan energi (kalori) pada bahan pakan (Blakely dan Bade, 1998 dalam Nina WH 2009).
Kekurangan energi dapat mengakibatkan terhambatnya pertambahan bobot badan, penurunan bobot badan dan berkurangnya semua fungsi produksi dan terjadi kematian bila berlangsung lama .
e. Kebutuhan Akan Mineral
Tubuh hewan memerlukan mineral untuk membentuk jaringan tulang dan urat, untuk memproduksi dan mengganti mineral dalam tubuh yang hilang, serta untuk memelihara kesehatan (Sugeng, 1998 dalam Nina WH). Mineral berfungsi untuk bahan pembentuk tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan yang keras dan kuat, memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh, sebagai aktivator sistem enzim tertentu, sebagai komponen dari suatu sistem enzim . Mineral harus disediakan dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup, karena apabila terlalu banyak mineral akan membahayakan tubuh ternak (Anggorodi, 1994 dalam Nina WH).
DAFTAR PUSTAKA
Abun, 2007, pengukuran nilai kecernaan ransum yang Mengandung limbah udang windu produk Fermentasi pada ayam broiler, Fakultas Peternakan , Universitas Panjajaran
Danuarsa, 2011, Analisis Proksimat Pada kacang-kacangan Serta kecernaannya pada ternak, Tehnik pertanian Volume 11
Suparjo, 2011, Eavaluasi pakan secara In Vivio, Fakultas Peternakan Universitas jambi
Woro hayati, nina, 2009 kualitas pakan dan kecukupan nutrisi sapi simental di Peternakan mitra tani andini, kelurahan gunung pati, Kota semarang. Laporan kerja lapang jurusan nutrisi dan makanan ternak fakultas peternakan universitas diponegoro semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar